Senin, 01 April 2019

Filosofi Ilmu Tajwid Mutiara Kasih "Penantianku Layaknya Mad Wajib Muttasil"

Mad artinya panjang. Wajib artinya harus. Muttasil artinya tersambung. Hukum bacaan disebut Mad Wajib Muttasil yaitu apabila mad thobi’i bertemu hamzah ( ء ) di dalam satu kata.

Cara membacanya wajib dipanjangkan sampai dua setengah alif atau lima harakat.

Adinda, ketika aku membaca kembali kitab tentang ilmu tajwid BAB MAD materi Mad Wajib Muttasil seketika itu juga diriku teringat dirimu adinda. Panjangnya penantian ini menantikan dirimu semoga berakhir pada kebahagiaan layaknya mad wajib muttasil.

Mad ibarat sebuah penantian yang panjang sedangkan wajib itu adalah sebuah keharusan terkait penantian ini yang sudah seharusnya berakhir secara muttasil yaitu bersambung yang artinya adalah terikat dalam satu bahtera rumah tangga.

Adinda, memang betul sebuah penantian tidak selamanya akan berakhir dalam satu ikatan yang diinginkan. Boleh jadi penantian yang panjang justru berakhir pada perpisahan layaknya mad jaiz munfashil. Lihatlah keterangan berikut ini terkait mad jaiz munfashil.

Mad Artinya panjang. Jaiz artinya boleh. Munfashil artinya terpisah. Hukum bacaan disebut Mad Jaiz Munfashil yaitu apabila Mad Thobi’I berhadapan dengan hamzah ( ء ) di lain kata atau tidak satu kata.

Cara membacanya lebih baik dipanjangkan seperti panjangnya Mad Wajib Muttasil (lima harakat), tetapi boleh juga dipanjangkan seperti panjang bacaan Mad Thobi’I (dua harakat).

Adindaku tercinta, aku yakin engkau pun disana menginginkan seperti yang aku inginkan. Menginginkan penantian ini berakhir layaknya mad wajib muttasil. 

Aku merasakan getaran-getaran kerinduan yang engkau rasakan lewat lantunan doa-doa dalam wiridmu. Fatihahmu yang tak pernah lelah untuk diriku selalu kurasakan getarannya hingga menghujam hatiku agar selalu menatap lurus kedepan menatap masa depan kita bersama.

Tiba-tiba ada seekor tikus lewat mengagetkanku. Sadarlah diriku dari lamunan, ternyata diriku belum punya adinda. Ah, kamu tikus mengganggu saja. 

Kemudian lidahku berkata lirih namun jelas, Hai Kamu, Maukah jadi Adindaku?? Iya kamu. Kamu yang sedang membaca tulisan ini. Bukan kamu yang laki-laki tapi kamu, iya kamu, kamu, wanita yang sedang membaca tulisan ini sambil tersenyum-senyum sendiri, Maukah jadi adindaku dan hidup bersamaku?

Sadarkah kau kusayangi
Sadarkah untukmu ku bernyanyi
Terbacakah niat tulus ini
Degup jantung kian terbisik
Kadang kata tak berarti
Kalau hanya kan sakiti
Diam bukanlah tak ingin


Degup jantung kian terbisik
Tanda cinta yang bersemi
Aku yang kan mencintaimu
Aku yang kan slalu mendampingimu
Bila bahagia yang akan kau tuju
Bila butuh cahaya tuk menemanimu
Pilihlah aku


Jangan sempatkan berlalu
Kalau karyaku yang kau tunggu
Jangan hanya aku yang tahu
Aku cinta padamu
Mohon warnai jiwaku
Maukah hidup bersamaku

[ SO7~Pilihlah Aku ]

Temani. Temani aku
Temani. Temani aku
Bila nanti kau milikku
Bila nanti aku milikmu

Mencintaimu kurasakan begitu indah
Kasih sayangmu kurasakan sungguh sempurna
Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Temani. Temani aku
Temani. Temani aku

Menyayangimu kulakukan setulus hatiku
Mengagumi membuatku merasa tenang
Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku

Ku bahagia bila ragamu di sampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukku

Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku

Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Dan Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku
Temani. Temani aku
Temani. Temani aku
Bila nanti kau milikku
Bila nanti aku milikmu

[ NAFF ~ Bila Nanti Kau Milikku ]